Selasa, 05 April 2016

CERPEN

CERPEN
BERSYUKURLAH!!!
(Annisya Nurul H. X MIA 4)
Pagi hari yang memanggilku dengan tiba-tiba di kota besar ini. Matahari mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu dan rona wajahnya yang menakjubkan bagi mata yang memandangnya. Awanmalam mulai memudarberubah menjadi awan pagi hari. Angin berhembus pelan melewati celah-celah dinding kayu yang sudah keropos membuat tangan dan kaki merinding kedinginan. Lalu, aku menarik selimut usang yang sudah memiliki tambalan disana-sini untuk menghangatkan tubuhku ini. Disinilah aku melepaskan kepenatanku pada hari-hari yang melelahkan. Suasana esok hari masih terasa.Terdengar jelas suara kicauan merdu burung-burung yang hinggap di pohon mangga milik tetangga sebelahku.
Sesekali aku membuka mata pelan-pelan dan melirik pada jam dinding. Aku menggeliatkan tubuhku ke kanan kiri dan segera bangun dari tidurku. Badanku terasa agak pegal-pegal. Tak terasa jam menunjuk pukul 05.00, aku bangun dari tempat tidurku dan mulai merapikannya. Aku masih melihat pancaran sinar rembulan di lantai yang berebut masuk dari celah genting-genting berlubang di rumahku. Sesegera mungkin, aku mengambil air wudhu dan menyegerakan salat subuh. Setiap salat aku selalu berdoa, “Ya Allah, berikan tempat yang terbaik disisi-Mu untuk kedua orang tuaku, hamba mohon agar diberi kemudahan untuk menuntut ilmu dan menggapai cita-cita, Amin”. Itulah doa yang selalu kuucapkan ketika aku menunaikan ibadah salat setiap harinya.
Aku adalah siswa SMA. Aku hidup sebatang kara karena kedua orang tuaku meninggal 3 tahun yang lalu saat aku berada di kelas 8 SMP. Oleh karena itu, aku berjanji kepada orang tuaku untuk menggapai cita-cita untuk menjadi seseorang yang sukses di masa depan dan membuat orang tuaku merasa bangga dari atas sana.Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah, aku biasanya bekerja di sebuah pabrik kecil sebagai kuli angkat bahan-bahan makanan yang akan digunakan sebagai adonan pembuatan bakso sapi tersebut.
Setiap hari sepulang sekolah, aku mulai bekerja. Para pekerja dan pemilik pabrik dapat memahami keadaanku. Aku mendapatkan upah Rp 10.000,00 per harinya. Dengan uang tersebut, aku dapat membeli 2 nasi bungkus untuk aku makan di malam hari dan untuk sarapan. Sisa dari uang tersebut, aku gunakan separuh untuk uang saku dan separuh lagi aku sisihkan sebagai tabungan di celengan kecilku. Kadang-kadang, tetangga dengan murah hati memberiku sedikit sayur sehingga aku hanya membeli nasi saja. Di sekolah, Teman-temanku sudah memaklumi keadaanku.
“Hei Ndi, apa kau mau jajan?” kata si Dimas dengan logat Bataknya yang masih kental. Dia adalah salah satu teman sekelasku dan juga teman sebangku. Dia berasal dari Batak dan baru saja pindah ke Jawa karena ayahnya mendapatkan tugas disini.
“Tidak, aku sudah bawa bekal dari rumah. Hitung-hitung simpen duit,” jawabku sambil mengeluarkan sebungkus nasi dan sendok dari dalam tasku.
“Oooo....... seperti itu. Baiklah aku ke kantin dulu mengisi perutku yang sudah keroncongan dari tadi,” sahut Dimas (sambil meninggalkan kelas).
“Ya. Jangan lupa nanti siang tugas kelompoknya dengan Sita dan Ida,” teriakku kepadanya. Setelah itu, aku membuka dan menyantap makananku dengan lahapnya.
***
Sepulang sekolah Dimas, Sita, Ida, dan aku mulai mengerjakan tugas kelompok biologinya.
“Sekarang kita mulai dari yang mana, nih?” tanya Ida sambil mengeluarkan selembar kertas folionya.
“Lebih baik kita bagi-bagi tugas mencarinya. Nanti kalau udah dapet  jawabannya, baru kita tulis di kertas folio,” usulku kepada mereka. Mereka setuju dengan usulku tadi dan supaya bisa menghemat waktu. Lalu, kami mulai membagi tugas-tugasnya. Masing-masing anggota kelompok mendapatkan tugasnya secara rata. Akhirnya kami bisa menyelesaikan tugas tersebut hanya dalam waktu 40 menit saja.
“Akhirnya selesai juga. Nanti di rumah aku bisa belajar tanpa terganggu dengan tugas biologi  ini dan besok kita tinggal mengumpulkan ke Bu Lestari. Betulkan apa yang aku omongin?” tanyanya kepada yang lain.
“Betul banget kamu. Tumben banget kamu bisa nyelesain kata tanpa memasukkan makanan sedikit pun ke mulutmu?” kata Sita sambil tertawa terbahak-bahak yang kemudian diikuti oleh aku dan Ida.
“Yeee.... ngejek amat! Gini-gini juga bisa dong ngomong tanpa masukin makanan di depanku ini dan aku akan melahapnya sekarang juga,” kata Dimas sambil mengambil makanan tersebut.
“Eh, gak terasa udah sore aja. Aku mau pulang soalnya masih ada les matematika nanti jam 5 sore,” kata Sita ke teman-temannya.
“Aku juga nih. Aku masih ada acara keluarga di rumah pamanku. Nanti keburu ditinggal ama ayah ibuku pergi kesana,” jawab Ida sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. Setelah itu, kami segera bergegas pulang.
Setelah sepulang sekolah, aku bergegas mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah tadi.
“Selamat siang, Pak Udin. Maaf agak terlambat datang soalnya ada tugas kelompok dengan teman-teman yang harus diselesaikan hari ini juga,” kataku dengan suara terengah-engah karena berlari dari sekolah menuju pabrik tempatku bekerja.
“Tak apa, saya bisa memakluminya. Baiklah sekarang mulailah angkat karung-karung itu ke tempat penggilingan bakso,” jawab Pak Udin dengan nada yang bijaksana.
“Baik, Pak!” sahutku (sambil bergegas ke tempat karung-karung berada). Selama aku bekerja di tempat ini, aku tidak pernah melihat wajah Pak Udin marah. Ia selalu bijaksana dan berwajah teduh seperti tak ada masalah dalam hidupnya. Ia selalu dapat memahami keadaan masing-masing pekerjanya. Aku sangat kagum dibuatnya. Hal inilah yang membuat aku dan para pekerja lainnya betah bekerja di tempat ini.
Akhirnya, aku memulai mengangkat karung tersebut. Satu per satu karung membebani punggungku. Meskipun aku beban di punggungku sangat berat, aku selalu merasakan seperti membawa kapas di punggungku. Setiap pekerjaan aku lakukan dengan kerja keras supaya hasilnya tidak mengecewakan bagi orang lain dan bagi Pak Udin sendiri. Walau  hanya aku yang paling muda bekerja disana, aku diperlakukan sama dengan pekerja-pekerja lain yang rata-rata sudah berkeluarga.
Tak terasa sore hari sudah menjemputku hari itu. Aku mulai melipat karung-karung tersebut. Ada juga yang membersihkan mesin penggilingan daging sapi. Semua pekerja bekerja sama membersihkan tempat kerjanya supaya tidak kotor. Bagian terakhir yang ditunggu-tunggu para pekerja sebelum pulang adalah menerima gaji hariannya. Aku pun begitu. Semua memperoleh gaji berbeda-beda sesuai pekerjaan yang didapatkannya.
Setelah aku mendapatkan gajiku, aku bergegas pulang. Sebelumnya aku mampir di warteg sederhana untuk membeli nasi bungkus. Ketika aku sudah mendapatkan nasi bungkusnya dan hendak keluar, aku melihat seorang anak kecil sedang mengintip dari luar warteg dan memandang orang-orang yang sedang makan dengan lahapnya. Aku yakin bahwa dia sedang menahan lapar yang membuat suara perut menjadi keroncongan dan dilihat wajahnya dia agak pucat. Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri dan bertanya kepadanya.
“Hai Dik, apa yang sedang kamu lakukan disini dan ada apa denganmu?” tanyaku pelan-pelan kepadanya.
“Aku ingin sekali membeli nasi bungkus untuk diriku dan adikku. Tapi..............” jawabnya dan kemudian mulai menangis bersedu-sedu.
Hei, jangan menangis (sambil mengusapkan air mata yang menetes). Cobalah bercerita kepadaku apa yang sudah terjadi padamu dan siapa tahu aku bisa membantumu,” kataku (sambil mengajak anak kecil tersebut duduk di bangku depan warteg itu).
“Jadi sebenarnya, saya dan adik saya adalah anak jalanan. Namaku Satria dan adikku bernama Dina. Kami tinggal di sebuah gubuk kecil di pemukiman kumuh yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah. Aku berumur 10 tahun dan adikku berumur 6 tahun. Kedua orang tua kami sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena mengalami kecelakaan fatal. Oleh karena itu, akulah yang harus bertanggung jawab atas adikku. Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti sekolah mulai kelas 4 SD dan mulai mencari pekerjaan di sekitar sini supaya aku bisa mengetahui keadaan adikku serta menjaga jemuran pakaian kami.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku menjadi penjual koran di pinggir jalan. Selama aku bekerja, aku menitipkan adikku kepada tetangga sebelahku. Namun hari ini penghasilanku sedikit dan hanya bisa untuk menyetorkan hasil jualan koran tadi. Koran itu masih tersisa banyak dan aku hanya mendapat keuntungan Rp 3000,00. Kalau aku membeli makanan, aku hanya akan dapat nasi saja. Hari ini juga susu sachet adikku habis”, katanya sambil mengusap air mata yang masih saja keluar dengan sendirinya.
Mendengar perkataannya aku hanya bisa mengelus dada. Mataku nanar dan berkaca-kaca. Hampir saja air mataku membasahi pipiku. Hatiku sangat tersentuh atas ceritanya. Aku kagum kepadanya yang bisa menjadi orang tua sekaligus kakak bagi adiknya yang masih kecil.Oleh karena itu, aku masuk kembali ke dalam warteg untuk membelikannya nasi. Aku memesan sebungkus nasi dengan nasi dan sayur lebih banyak. Setelah itu, aku keluar dan memberikannya nasi tersebut kepadanya.
“Ini aku belikan sebungkus nasi untukmu dan adikmu buat mengganjal perut malam ini,” kataku sambil menyerahkannya.
“Tidak usah, Kak. Aku malah merepotkan Kakak sendiri. Aku masih punya uang untuk membelinya walau hanya untuk adikku,” tolaknya.
“Tidak. Kamu tidak merepotkanku tapi aku hanya kagum denganmu. Kamu sudah bisa menjadi orang tua dan kakak yan baik sedangkan aku mungkin tak sanggup dengan hal seperti itu. Jadi, terimalah nasi bungkus ini walau hanya sedikit !” suruhku kepadanya. 
“Terima kasih banyak, Kak. Aku hanya bisa membalasnya dengan doa,” jawabnya kepadaku.
“Sama-sama. Aku juga mengucapkan terima kasih atas ceritamu yang memberiku semangat dan motivasi besar untuk lebih bersyukur kepada-Nya,” sahutku.
Tak terasa waktu sudah larut malam saja. Aku dan anak kecil ini beranjak dari bangku dan segera pulang. Untungnya,jalan yang dilalui kami sama tetapi berbeda arah menuju rumah.Aku ke arah utara sedangkan dia ke arah barat. Akhirnya, kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.

2 komentar:

  1. Saya belum menemukan hasil jerih payah sang tokoh! Coba renungkan lagi kalau latar tempatnya di kota besar, rasanya tidak cocok penanda bangun adalah suara kokok ayam.Coba cari tanda yang lain, yang lebih tepat.

    BalasHapus