Jumat, 03 Juni 2016

LAPORAN PERJALANAN PLS

 Laporan Perjalanan
Kunjungan Ke Sangiran Dan Sritex
(Annisya Nurul H. X MIA 4)
PLS adalah suatu kegiatan rutin setiap tahun yang diadakan oleh sekolah untuk menggali pengetahuan dari luar sekolah dan ditujukan kepada kelas seluruh siswa X SMAN 2 Magelang.
Pada 16 Februari 2016, SMAN 2 Magelang mengadakan PLS ke PT. Sritex dan Museum Sangiran. Pukul 06.00 WIB, seluruh siswa kelas X berkumpul di depan sekolah. Lalu, kami disuruh ke pinggir jalan raya untuk menunggu dan menaiki bus. Tak selang kemudian, bus datang dan kami disuruh untuk menaiki bus sesuai data yang sudah dibuat. Setelah berada di bus masing-masing dan duduk sesuai urutan tempat duduk, kami diabsen oleh pendamping. Sekitar pukul 07.00 WIB, kami pun berangkat.
Selama di dalam perjalanan, kami mendengarkan musik dan ada pula yang membuat lelucon agar keadaan dalam bus tidak garing. Waktu sudah semakin siang namun kami juga belum sampai ke tempat tujuan. Sekitar pukul 11.55 WIB, kami baru sampai di Sritex dan menunggu panggilan untuk masuk. Kami memasuki sebuah bagian dimana ada yang menjahit, menempelkan pola ke pakaian, dan sebagainya. Kami hanya memutari ruangan dan akhirnya naik ke bus lagi. Kami dibawa ke toko dimana yang menjual berbagai jenis pakaian dari pabrik dan toko bahan pakaian. Kami diperbolehkan untuk membeli barang dari toko tersebut. Setelah itu, kami masuk ke bus dan melanjutkan perjalanan ke Museum  Sangiran. Di tengah perjalanan ke Museum Sangiran, kami berhenti di sebuah rumah makan dan mengambil pesanan makanannya. Kami makan di dalam bus sambil melanjutkan perjalanan ke Museum Sangiran.
Sesampainya di Museum Sangiran, kami berkumpul untuk menunggu panggilan dari pemandu museum atau yang lebih dikenal dengan nama guide. Kami dibagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok I memasuki ruang pameran I dan kelompok II memasuki ruang pameran II. Di dalam ruang pameran tersebut, kami dapat melihat macam-macam manusia purba maupun hewan purba yang dipajang disana. Didalamnya terdapat banyak fosil dari hewan seperti fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, dan beberapa jenis hewan seperti badak, sapi, rusa, banteng, kerbau serta manusia purba.
 Macam-macam manusia purba yang ada di Sangiran diantaranya seperti Homo erectus, Homo sapiens, Homo habilis, Australopithecus aficanus, dan masih banyak lagi. Kebanyakan manusia purba yang dipajang hanya bagian tengkoraknya saja. Jika seluruh badan, biasanya manusia purba dibuat replikanya saja. Kami memotret pajangan-pajangan tersebut sambil mengikuti  gerak guide saat menjelaskannya satu per satu.
Setelah selesai dengan penjelasan guide, kami diperbolehkan untuk berfoto-foto di luar museum dimana terdapat sebuah taman. Para siswa menggunakan momentum ini untuk berfoto-foto di berbagai tempat tersebut. Kemudian kami disuruh untuk beribadah dan mengganti pakaian dengan memakai pakaian PLS yang dibagikan sehari sebelum PLS.
Sudah hampir pukul 16.55, kami disuruh untuk segera naik ke bus dan melanjutkan perjalanan untuk membeli oleh-oleh. Rencananya kami akan membeli di PGS namun karena kami agak lama di Museum Sangiran, PGS sudah tutup. Oleh karena itu, kami dibawa ke Solo Square sebagai ganti tempat untuk membeli oleh-oleh.
Setelah sekitar dua jam berada di Solo Square, kami disuruh berkumpul dan masuk ke dalam bus lagi karena sudah waktunya untuk pulang. Sebelum pulang, kami singgah di sebuah rumah makan untuk makan malam. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan pulang. Sekitar pukul 23.00 WIB, kami tiba di Magelang. Di pinggir jalan raya dekat SMAN 2 Magelang sudah banyak orang tua yang menunggu kepulangan anaknya. Akhirnya setelah turun daari bus, kami langsung menuju orang tua kami dan langsung pulang karena hari sudah sangat larut.

Selasa, 05 April 2016

CERPEN

CERPEN
BERSYUKURLAH!!!
(Annisya Nurul H. X MIA 4)
Pagi hari yang memanggilku dengan tiba-tiba di kota besar ini. Matahari mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu dan rona wajahnya yang menakjubkan bagi mata yang memandangnya. Awanmalam mulai memudarberubah menjadi awan pagi hari. Angin berhembus pelan melewati celah-celah dinding kayu yang sudah keropos membuat tangan dan kaki merinding kedinginan. Lalu, aku menarik selimut usang yang sudah memiliki tambalan disana-sini untuk menghangatkan tubuhku ini. Disinilah aku melepaskan kepenatanku pada hari-hari yang melelahkan. Suasana esok hari masih terasa.Terdengar jelas suara kicauan merdu burung-burung yang hinggap di pohon mangga milik tetangga sebelahku.
Sesekali aku membuka mata pelan-pelan dan melirik pada jam dinding. Aku menggeliatkan tubuhku ke kanan kiri dan segera bangun dari tidurku. Badanku terasa agak pegal-pegal. Tak terasa jam menunjuk pukul 05.00, aku bangun dari tempat tidurku dan mulai merapikannya. Aku masih melihat pancaran sinar rembulan di lantai yang berebut masuk dari celah genting-genting berlubang di rumahku. Sesegera mungkin, aku mengambil air wudhu dan menyegerakan salat subuh. Setiap salat aku selalu berdoa, “Ya Allah, berikan tempat yang terbaik disisi-Mu untuk kedua orang tuaku, hamba mohon agar diberi kemudahan untuk menuntut ilmu dan menggapai cita-cita, Amin”. Itulah doa yang selalu kuucapkan ketika aku menunaikan ibadah salat setiap harinya.
Aku adalah siswa SMA. Aku hidup sebatang kara karena kedua orang tuaku meninggal 3 tahun yang lalu saat aku berada di kelas 8 SMP. Oleh karena itu, aku berjanji kepada orang tuaku untuk menggapai cita-cita untuk menjadi seseorang yang sukses di masa depan dan membuat orang tuaku merasa bangga dari atas sana.Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah, aku biasanya bekerja di sebuah pabrik kecil sebagai kuli angkat bahan-bahan makanan yang akan digunakan sebagai adonan pembuatan bakso sapi tersebut.
Setiap hari sepulang sekolah, aku mulai bekerja. Para pekerja dan pemilik pabrik dapat memahami keadaanku. Aku mendapatkan upah Rp 10.000,00 per harinya. Dengan uang tersebut, aku dapat membeli 2 nasi bungkus untuk aku makan di malam hari dan untuk sarapan. Sisa dari uang tersebut, aku gunakan separuh untuk uang saku dan separuh lagi aku sisihkan sebagai tabungan di celengan kecilku. Kadang-kadang, tetangga dengan murah hati memberiku sedikit sayur sehingga aku hanya membeli nasi saja. Di sekolah, Teman-temanku sudah memaklumi keadaanku.
“Hei Ndi, apa kau mau jajan?” kata si Dimas dengan logat Bataknya yang masih kental. Dia adalah salah satu teman sekelasku dan juga teman sebangku. Dia berasal dari Batak dan baru saja pindah ke Jawa karena ayahnya mendapatkan tugas disini.
“Tidak, aku sudah bawa bekal dari rumah. Hitung-hitung simpen duit,” jawabku sambil mengeluarkan sebungkus nasi dan sendok dari dalam tasku.
“Oooo....... seperti itu. Baiklah aku ke kantin dulu mengisi perutku yang sudah keroncongan dari tadi,” sahut Dimas (sambil meninggalkan kelas).
“Ya. Jangan lupa nanti siang tugas kelompoknya dengan Sita dan Ida,” teriakku kepadanya. Setelah itu, aku membuka dan menyantap makananku dengan lahapnya.
***
Sepulang sekolah Dimas, Sita, Ida, dan aku mulai mengerjakan tugas kelompok biologinya.
“Sekarang kita mulai dari yang mana, nih?” tanya Ida sambil mengeluarkan selembar kertas folionya.
“Lebih baik kita bagi-bagi tugas mencarinya. Nanti kalau udah dapet  jawabannya, baru kita tulis di kertas folio,” usulku kepada mereka. Mereka setuju dengan usulku tadi dan supaya bisa menghemat waktu. Lalu, kami mulai membagi tugas-tugasnya. Masing-masing anggota kelompok mendapatkan tugasnya secara rata. Akhirnya kami bisa menyelesaikan tugas tersebut hanya dalam waktu 40 menit saja.
“Akhirnya selesai juga. Nanti di rumah aku bisa belajar tanpa terganggu dengan tugas biologi  ini dan besok kita tinggal mengumpulkan ke Bu Lestari. Betulkan apa yang aku omongin?” tanyanya kepada yang lain.
“Betul banget kamu. Tumben banget kamu bisa nyelesain kata tanpa memasukkan makanan sedikit pun ke mulutmu?” kata Sita sambil tertawa terbahak-bahak yang kemudian diikuti oleh aku dan Ida.
“Yeee.... ngejek amat! Gini-gini juga bisa dong ngomong tanpa masukin makanan di depanku ini dan aku akan melahapnya sekarang juga,” kata Dimas sambil mengambil makanan tersebut.
“Eh, gak terasa udah sore aja. Aku mau pulang soalnya masih ada les matematika nanti jam 5 sore,” kata Sita ke teman-temannya.
“Aku juga nih. Aku masih ada acara keluarga di rumah pamanku. Nanti keburu ditinggal ama ayah ibuku pergi kesana,” jawab Ida sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. Setelah itu, kami segera bergegas pulang.
Setelah sepulang sekolah, aku bergegas mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah tadi.
“Selamat siang, Pak Udin. Maaf agak terlambat datang soalnya ada tugas kelompok dengan teman-teman yang harus diselesaikan hari ini juga,” kataku dengan suara terengah-engah karena berlari dari sekolah menuju pabrik tempatku bekerja.
“Tak apa, saya bisa memakluminya. Baiklah sekarang mulailah angkat karung-karung itu ke tempat penggilingan bakso,” jawab Pak Udin dengan nada yang bijaksana.
“Baik, Pak!” sahutku (sambil bergegas ke tempat karung-karung berada). Selama aku bekerja di tempat ini, aku tidak pernah melihat wajah Pak Udin marah. Ia selalu bijaksana dan berwajah teduh seperti tak ada masalah dalam hidupnya. Ia selalu dapat memahami keadaan masing-masing pekerjanya. Aku sangat kagum dibuatnya. Hal inilah yang membuat aku dan para pekerja lainnya betah bekerja di tempat ini.
Akhirnya, aku memulai mengangkat karung tersebut. Satu per satu karung membebani punggungku. Meskipun aku beban di punggungku sangat berat, aku selalu merasakan seperti membawa kapas di punggungku. Setiap pekerjaan aku lakukan dengan kerja keras supaya hasilnya tidak mengecewakan bagi orang lain dan bagi Pak Udin sendiri. Walau  hanya aku yang paling muda bekerja disana, aku diperlakukan sama dengan pekerja-pekerja lain yang rata-rata sudah berkeluarga.
Tak terasa sore hari sudah menjemputku hari itu. Aku mulai melipat karung-karung tersebut. Ada juga yang membersihkan mesin penggilingan daging sapi. Semua pekerja bekerja sama membersihkan tempat kerjanya supaya tidak kotor. Bagian terakhir yang ditunggu-tunggu para pekerja sebelum pulang adalah menerima gaji hariannya. Aku pun begitu. Semua memperoleh gaji berbeda-beda sesuai pekerjaan yang didapatkannya.
Setelah aku mendapatkan gajiku, aku bergegas pulang. Sebelumnya aku mampir di warteg sederhana untuk membeli nasi bungkus. Ketika aku sudah mendapatkan nasi bungkusnya dan hendak keluar, aku melihat seorang anak kecil sedang mengintip dari luar warteg dan memandang orang-orang yang sedang makan dengan lahapnya. Aku yakin bahwa dia sedang menahan lapar yang membuat suara perut menjadi keroncongan dan dilihat wajahnya dia agak pucat. Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri dan bertanya kepadanya.
“Hai Dik, apa yang sedang kamu lakukan disini dan ada apa denganmu?” tanyaku pelan-pelan kepadanya.
“Aku ingin sekali membeli nasi bungkus untuk diriku dan adikku. Tapi..............” jawabnya dan kemudian mulai menangis bersedu-sedu.
Hei, jangan menangis (sambil mengusapkan air mata yang menetes). Cobalah bercerita kepadaku apa yang sudah terjadi padamu dan siapa tahu aku bisa membantumu,” kataku (sambil mengajak anak kecil tersebut duduk di bangku depan warteg itu).
“Jadi sebenarnya, saya dan adik saya adalah anak jalanan. Namaku Satria dan adikku bernama Dina. Kami tinggal di sebuah gubuk kecil di pemukiman kumuh yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah. Aku berumur 10 tahun dan adikku berumur 6 tahun. Kedua orang tua kami sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena mengalami kecelakaan fatal. Oleh karena itu, akulah yang harus bertanggung jawab atas adikku. Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti sekolah mulai kelas 4 SD dan mulai mencari pekerjaan di sekitar sini supaya aku bisa mengetahui keadaan adikku serta menjaga jemuran pakaian kami.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku menjadi penjual koran di pinggir jalan. Selama aku bekerja, aku menitipkan adikku kepada tetangga sebelahku. Namun hari ini penghasilanku sedikit dan hanya bisa untuk menyetorkan hasil jualan koran tadi. Koran itu masih tersisa banyak dan aku hanya mendapat keuntungan Rp 3000,00. Kalau aku membeli makanan, aku hanya akan dapat nasi saja. Hari ini juga susu sachet adikku habis”, katanya sambil mengusap air mata yang masih saja keluar dengan sendirinya.
Mendengar perkataannya aku hanya bisa mengelus dada. Mataku nanar dan berkaca-kaca. Hampir saja air mataku membasahi pipiku. Hatiku sangat tersentuh atas ceritanya. Aku kagum kepadanya yang bisa menjadi orang tua sekaligus kakak bagi adiknya yang masih kecil.Oleh karena itu, aku masuk kembali ke dalam warteg untuk membelikannya nasi. Aku memesan sebungkus nasi dengan nasi dan sayur lebih banyak. Setelah itu, aku keluar dan memberikannya nasi tersebut kepadanya.
“Ini aku belikan sebungkus nasi untukmu dan adikmu buat mengganjal perut malam ini,” kataku sambil menyerahkannya.
“Tidak usah, Kak. Aku malah merepotkan Kakak sendiri. Aku masih punya uang untuk membelinya walau hanya untuk adikku,” tolaknya.
“Tidak. Kamu tidak merepotkanku tapi aku hanya kagum denganmu. Kamu sudah bisa menjadi orang tua dan kakak yan baik sedangkan aku mungkin tak sanggup dengan hal seperti itu. Jadi, terimalah nasi bungkus ini walau hanya sedikit !” suruhku kepadanya. 
“Terima kasih banyak, Kak. Aku hanya bisa membalasnya dengan doa,” jawabnya kepadaku.
“Sama-sama. Aku juga mengucapkan terima kasih atas ceritamu yang memberiku semangat dan motivasi besar untuk lebih bersyukur kepada-Nya,” sahutku.
Tak terasa waktu sudah larut malam saja. Aku dan anak kecil ini beranjak dari bangku dan segera pulang. Untungnya,jalan yang dilalui kami sama tetapi berbeda arah menuju rumah.Aku ke arah utara sedangkan dia ke arah barat. Akhirnya, kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.

Selasa, 24 November 2015

Keuntungan Belajar Pewayangan


Keuntungan Belajar Pewayangan
(Annisya Nurul H. X MIA 4)

            Pada era seperti sekarang ini, ada banyak cara belajar yang dilakukan oleh siswa dalam memahami suatu mata pelajaran tertentu. Semua itu tergantung pilihan siswa dengan cara setiap hari belajar, atau sistem kebut semalam, dan berbagai macam cara lainnya. Salah satu cara belajar adalah sistem kebut semalam atau lebih dikenal dengan SKS. Cara ini adalah cara yang sering digunakan oleh siswa-siswi. Namun, sistem kebut semalam (SKS) memiliki dampak positif maupun dampak negatif. Dampak negatif cara belajar ini lebih banyak daripada dampak positifnya. Hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan bagi orang Indonesia.
            Dampak positif cara belajar pewayangan antara lain sebagai berikut.
1.            Tidak mudah lupa
Dengan cara SKS, materi yang dipelajari semalam akan lebih lama untuk diingat dengan mudah daripada dengan cara menghapal setiap harinya.
2.            Hemat waktu
Hal ini akan lebih membuat seseorang menghemat waktu karena waktu yang digunakan untuk belajar hanya semalam saja dan dapat mengerjakan kegiatan atau tugas lain yang belum terselesaikan.
3.            Bersemangat
Seseorang akan mempunyai semangat yang lebih daripada seseorang yang selalu belajar setiap hari. Hal ini akan mendorong seseorang untuk bersemanagt dalam belajarnya.
4.            Mudah memahami mata pelajaran
Jika seseorang yang memiliki daya ingatan yang lebih daripada orang lain, akan lebih mudah dalam memepelajari dan memahami materi pelajaran hanya dengan belajar semalaman saja.
Jadi, dampak positif cara belajar pewayangan adalah tidak mudah lupa, hemat waktu, bersemangat, dan mudah memahami mata pelajaran.

Selasa, 10 November 2015

BERITA

Semarak Pensi Spesial HUT Smada 2015

(Annisya Nurul Hidayah X MIA 4)

Sabtu (24/10), SMA Negeri 2 Magelang merayakan hari ulang tahunnya yang ke-36 yang dimeriahkan dengan acara mural untuk seluruh kelas XII pada hari Kamis – Sabtu tanggal 15-17 Oktober 2015 , pensi pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2015, lomba menghias tumpeng, dan sebagai penutup diadakannya jalan santai seluruh warga SMA N 2 Magelang dan warga sekitarnya pada hari Minggu tanggal 25 Oktober 2015. Pada hari Sabtu, seluruh siswa memakai dresscode bertema Oreo. Oleh karena itu, warna pakaian yang dipakai beraneka ragam warnanya mulai dari putih, merah muda, coklat, ungu, dan lain sebagainya.
Salah satu dari acara yang memeriahkan HUT Smada 2015 yaitu pensi yang diikuti oleh seluruh kelas X sampai kelas XII. Isi dari pensi tersebut adalah drama musikal, menyanyi, flashmop, dan tari tradisional. Seluruh kelas menampilkan salah satu dari pilihan yang sudah disediakan dan kebanyakan memilih dance modern dan menyanyi. Seluruh siswa sangat antusias mengikuti acara pensi tersebut. Dikarenakan hal ini dapat meningkatkan dan mengembangkan kreativitas-kreativitas  anak yang ditampilkan melalui acara pensi tersebut.
Acara pensi tersebut dibuka oleh kepala sekolah SMAN 2 Magelang, Bapak M. Arif Fauzan Bukhori dengan sambutannya dan kemudian dilanjutkan pensi untuk urutan pertama dari kelas XI MIA 5, X MIA 4, dan selanjutnya kelas-kelas lainnya sesuai nomor urutan yang didapat dari masing-masing kelas. Acara tersebut diselingi oleh band-band dari dari dalam sekolah dan dari luar sekolah untuk memeriahkan acara ulang tahun Smada tersebut. Pensi tersebut dimulai sekitar pukul 08.00 pagi sampai siang hari.
Siswa yang menonton sangat menikmati acara tersebut sampai selasai karena tidak ingin melewatkan penampilan dari kelasnya yang sudah berlatih dari jauh hari sebelum hari tersebut. Diselingi menonton pensi tersebut, biasanya mereka membeli makanan ataupun minuman dari stan-stan yang sudah disediakan di lapangan basket diantaranya seperti soklatis, kimochi, dawet ireng, mie cool, milkshake, siomay, kantin Bu Arum, dan lain-lainnya.
Acara pensi tersebut dapat berjalan dengan lancar mulai dari awal sampai berakhirnya acara tersebut. Jika acara seperti ini dipertahankan, maka akan tubuh kreativitas anak-anak SMAN 2 Magelang yang belum diketahui oleh semua orang.
TEKS LHO

X-MIA 4, KELASKU

(Annisya Nurul Hidayah X MIA 4)

Kelas adalah tempat dimana siswa-siswi belajar di suatu sekolah untuk menuntut ilmu dan saling berinteraksi antara siswa yang satu dengan siswa yang lain untuk lebih mengenal siswa-siswi lainnya.
Salah satu kelas yang ada di SMA N 2 MAGELANG adalah kelas X MIA 4. Kelas X MIA 4 berada di samping kelas X MIA 5 dan dibelakang kelas XII MIA 1. Kelas tersebut dapat dikatakan kelas yang menyenangkan diantara kelas-kelas yang lainnnya karena siswa-siswi yang berada di kelas X MIA 4 mudah untuk diajak bercanda, pintar, sopan terhadap semua orang, saling tolong-menolong, dan jika salah satu siswa ada yang mengalami suatu masalah maka semua siswa merasakannya.
Pekerjaan orang tua yang ada di kelas X MIA 4 berbeda-beda. Mulai dari petani, wiraswasta, PNS, TNI/ POLRI, swasta, dan advokad. Oleh karena itu, siswa-siswi kelas X MIA 4 dapat mengetahui berbagai jenis pekerjaan-pekerjaan yang dimiliki antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya.
Orang tua yang mata pencahariannya sebagai petani ada 3 orang yaitu Desti Andrias Widati, Lestari Widyaningsih, dan Nurul Latifah. Sementara orang tuanya sebagai PNS ada 4 orang, yakni sebagai berikut Annisya Nurul Hidayah, Ayu Nabiha Septiyani, Mirza Abdurozak, dan Shinta Dyah Putri Utami, sedangkan orang tuanya sebagai TNI adalah Feby Milenia Yahya Krisna Putri.
Kebanyakan mata pencaharian orang tuanya adalah wiraswasta ada 12 orang diantaranya Agustian Rahayuningtyas, Ahmad Fatoni, Atharida Salma Nafisa, Bagus Wijayanto, Devi Nurdianti, Eka Nurwulan Hikmasari, dan lain-lainnya.
Ada juga mata pencaharian orang tuanya sebagai swasta ada 8 orang, diantaranya Alya Dwi Maharani, Dwi Puji Lestari, Hermawan Ristu Ramadhan, Masfufah, M. Akbarrodin, Novia Febriyanti, Sekar Latifatul Aliyah, Wahyu Dwi Kurniawati. Ada juga mata pencaharian orang tuanya sebagai advokad yaitu Zahrotul Fitriani.

Dari sekian banyak jenis mata pencaharian, kita dapat mengetahui jika masih banyak jenis pekerjaan yang belum kita ketahui sampai saat ini. Oleh karena itu, dengan adanya data tersebut kita menjadikan kita menambah ilmu tentang macam – macam pekerjaan yang ada.
TEKS ANEKDOT

Pajak

(Annisya Nurul Hidayah X MIA 4)

Pada siang hari di depan rumah, ada dua orang yang sedang duduk dengan santai. Mereka adalah Kang Ojak dan Kang Tris.
“Duh.....aduh......payah, ” kata Kang Ojak dengan penuh rasa kesal.
“Payah kenapa, Kang?” jawabnya dengan nada bertanya-tanya.
“Tiap tahun kita mbayar pajak, tapi apa yang kita dapatkan? ” sahut Kang Ojak dengan nada tinggi.
“Betul juga, Kang! Apakah dalam gedung yang besar itu ada tikus-tikusnya? Kasihan Pak Karno dan Pak Hatta dimakan oleh tikus-tikus itu, ” sahut Kang Tris sambil menyeruput segelas teh hangat yang dihidangkan oleh istri Kang Ojak.
“Mungkin juga. Mereka di depan baik-baik saja tetapi jika di belakang sibuk dengan penghitungan rupiah, ” jawab Kang Ojak dengan nada tegas.
“Pajak itu kan seharusnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Apakah mereka salah mengartikannya dengan Pengambilan uAng Tanpa Ada Kebocoran, ” salut Kang Tris yang serius menanggapi topik perbincangannya dengan Kang Ojak.
“Betul juga kamu, Tris! Sekarang kita juga yang harus menanggung kerugian dari tikus-tikus rakus itu, ” kata Kang Ojak yang menyetujui jawaban dari Kang Tris.
“Kita harus memberantasnya secepat mungkin karena jika dibiarkan begitu saja kapan negara kita disebut menjadi negara maju, ” kata Kang Tris menjelaskan dengan tegasnya.
“Aku setuju denganmu, Tris. Bagaimanapun juga ini adalah negara Indonesia bukan negara para tikus-tikus itu melancarkan aksinya, ” jawab Kang Ojak dengan serius.
Tak terasa, matahari mulai mengelincirkan tubuhnya ke ufuk barat yang menandakan hari mulai menjelang sore dan mereka masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Oleh karena itu, Kang Tris pamit pulang yang disusul oleh Kang Ojak yang juga masih mempunyai pekerjaan di ladangnya. 
“Aku mau meneruskan pekerjaanku di ladang pasti sudah menumpuk, ” jawab Kang Ojak sambil memasukkan gelasnya yang sudah kosong.
“Saya juga, Kang. Saya juga mau mengambil pesanan makanan di Pak Dolah untuk kegiatan yasinan. Wassalamu’alaikum, Kang, ” salut Kang Tris sambil meninggalkan rumah Kang Ojak.
“Ya,Wa’alaikumussalam.”
Akhirnya mereka melakukan pekerjaan mereka masing-masing sebelum matahari menenggelamkan dirinya di ufuk barat.