CERPEN
BERSYUKURLAH!!!
(Annisya Nurul H. X MIA 4)
Pagi
hari yang memanggilku dengan tiba-tiba di
kota besar ini. Matahari mulai menampakkan
dirinya dengan malu-malu dan rona wajahnya yang menakjubkan bagi mata yang
memandangnya. Awanmalam mulai memudarberubah menjadi awan pagi hari. Angin berhembus pelan melewati
celah-celah dinding kayu yang sudah keropos membuat tangan dan kaki merinding
kedinginan. Lalu, aku menarik selimut usang yang sudah
memiliki tambalan disana-sini untuk menghangatkan
tubuhku ini. Disinilah aku melepaskan kepenatanku pada hari-hari yang
melelahkan. Suasana esok hari masih terasa.Terdengar jelas suara kicauan merdu
burung-burung yang hinggap di pohon mangga milik tetangga sebelahku.
Sesekali aku membuka mata pelan-pelan dan melirik pada
jam dinding. Aku menggeliatkan tubuhku ke kanan kiri dan segera bangun dari
tidurku. Badanku terasa agak pegal-pegal. Tak terasa jam menunjuk pukul 05.00,
aku bangun dari tempat tidurku dan mulai merapikannya. Aku masih melihat
pancaran sinar rembulan di lantai yang berebut masuk dari celah genting-genting
berlubang di rumahku. Sesegera mungkin, aku mengambil air wudhu dan
menyegerakan salat subuh. Setiap salat aku selalu berdoa, “Ya Allah, berikan
tempat yang terbaik disisi-Mu untuk kedua orang tuaku, hamba mohon agar diberi
kemudahan untuk menuntut ilmu dan menggapai cita-cita, Amin”. Itulah doa yang
selalu kuucapkan ketika aku menunaikan ibadah salat setiap harinya.
Aku adalah siswa SMA. Aku hidup sebatang
kara karena kedua orang tuaku meninggal 3 tahun yang lalu
saat aku berada di kelas 8 SMP. Oleh karena itu, aku berjanji kepada orang
tuaku untuk menggapai cita-cita untuk menjadi seseorang yang sukses di masa
depan dan membuat orang tuaku merasa bangga dari
atas sana.Untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari dan sekolah, aku biasanya bekerja di sebuah pabrik kecil
sebagai kuli angkat bahan-bahan makanan yang akan digunakan sebagai adonan
pembuatan bakso sapi tersebut.
Setiap hari sepulang sekolah, aku mulai bekerja. Para
pekerja dan pemilik pabrik dapat memahami keadaanku. Aku mendapatkan upah Rp
10.000,00 per harinya. Dengan uang tersebut, aku dapat membeli 2 nasi bungkus
untuk aku makan di malam hari dan untuk sarapan. Sisa dari uang tersebut, aku
gunakan separuh untuk uang saku dan separuh lagi aku sisihkan sebagai tabungan di
celengan kecilku. Kadang-kadang, tetangga dengan murah hati memberiku sedikit
sayur sehingga aku hanya membeli nasi saja. Di sekolah, Teman-temanku sudah
memaklumi keadaanku.
“Hei Ndi, apa kau mau jajan?” kata si Dimas dengan
logat Bataknya yang masih kental. Dia adalah salah satu teman sekelasku dan
juga teman sebangku. Dia berasal dari Batak dan baru saja pindah ke Jawa karena
ayahnya mendapatkan tugas disini.
“Tidak, aku sudah bawa bekal dari rumah. Hitung-hitung simpen duit,” jawabku sambil
mengeluarkan sebungkus nasi dan sendok dari dalam tasku.
“Oooo.......
seperti itu. Baiklah aku ke kantin dulu mengisi perutku yang sudah keroncongan
dari tadi,” sahut Dimas (sambil meninggalkan kelas).
“Ya. Jangan lupa nanti siang tugas kelompoknya dengan
Sita dan Ida,” teriakku kepadanya. Setelah itu, aku membuka dan menyantap makananku
dengan lahapnya.
***
Sepulang sekolah Dimas, Sita, Ida, dan aku mulai
mengerjakan tugas kelompok biologinya.
“Sekarang kita mulai dari yang mana, nih?” tanya Ida
sambil mengeluarkan selembar kertas folionya.
“Lebih baik kita bagi-bagi tugas mencarinya. Nanti
kalau udah dapet jawabannya, baru kita tulis
di kertas folio,” usulku kepada mereka. Mereka setuju dengan usulku tadi dan
supaya bisa menghemat waktu. Lalu, kami mulai membagi tugas-tugasnya.
Masing-masing anggota kelompok mendapatkan tugasnya secara rata. Akhirnya kami
bisa menyelesaikan tugas tersebut hanya dalam waktu 40 menit saja.
“Akhirnya selesai juga. Nanti di rumah aku bisa
belajar tanpa terganggu dengan tugas biologi
ini dan besok kita tinggal mengumpulkan ke Bu Lestari. Betulkan apa yang
aku omongin?” tanyanya kepada yang lain.
“Betul banget kamu. Tumben banget kamu bisa nyelesain
kata tanpa memasukkan makanan sedikit pun ke mulutmu?” kata Sita sambil tertawa
terbahak-bahak yang kemudian diikuti oleh aku dan Ida.
“Yeee.... ngejek amat! Gini-gini juga bisa dong ngomong
tanpa masukin makanan di depanku ini dan aku akan melahapnya sekarang juga,”
kata Dimas sambil mengambil makanan tersebut.
“Eh, gak terasa udah sore aja. Aku mau pulang soalnya
masih ada les matematika nanti jam 5 sore,” kata Sita ke teman-temannya.
“Aku juga nih. Aku masih ada acara keluarga di rumah
pamanku. Nanti keburu ditinggal ama ayah ibuku pergi kesana,” jawab Ida sambil
memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. Setelah itu, kami segera bergegas
pulang.
Setelah sepulang sekolah, aku bergegas mengganti
seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah tadi.
“Selamat siang, Pak Udin. Maaf agak terlambat datang soalnya
ada tugas kelompok dengan teman-teman yang harus diselesaikan hari ini juga,”
kataku dengan suara terengah-engah karena berlari dari sekolah menuju pabrik
tempatku bekerja.
“Tak apa, saya bisa memakluminya. Baiklah sekarang
mulailah angkat karung-karung itu ke tempat penggilingan bakso,” jawab Pak Udin
dengan nada yang bijaksana.
“Baik, Pak!” sahutku (sambil bergegas ke tempat
karung-karung berada). Selama aku bekerja di tempat ini, aku tidak pernah
melihat wajah Pak Udin marah. Ia selalu bijaksana dan berwajah teduh seperti
tak ada masalah dalam hidupnya. Ia selalu dapat memahami keadaan masing-masing pekerjanya.
Aku sangat kagum dibuatnya. Hal inilah yang membuat aku dan para pekerja
lainnya betah bekerja di tempat ini.
Akhirnya, aku memulai mengangkat karung tersebut. Satu
per satu karung membebani punggungku. Meskipun aku beban di punggungku sangat berat,
aku selalu merasakan seperti membawa kapas di punggungku. Setiap pekerjaan aku
lakukan dengan kerja keras supaya hasilnya tidak mengecewakan bagi orang lain
dan bagi Pak Udin sendiri. Walau hanya
aku yang paling muda bekerja disana, aku diperlakukan sama dengan
pekerja-pekerja lain yang rata-rata sudah berkeluarga.
Tak terasa sore hari sudah menjemputku hari itu. Aku mulai melipat karung-karung tersebut. Ada juga
yang membersihkan mesin penggilingan daging sapi. Semua pekerja bekerja sama membersihkan tempat
kerjanya supaya tidak kotor. Bagian terakhir yang ditunggu-tunggu para pekerja sebelum
pulang adalah menerima gaji hariannya. Aku pun begitu. Semua memperoleh gaji
berbeda-beda sesuai pekerjaan yang didapatkannya.
Setelah aku mendapatkan gajiku, aku bergegas pulang.
Sebelumnya aku mampir di warteg sederhana untuk membeli nasi bungkus. Ketika
aku sudah mendapatkan nasi bungkusnya dan hendak keluar, aku melihat seorang
anak kecil sedang mengintip dari luar warteg dan memandang orang-orang yang
sedang makan dengan lahapnya. Aku yakin bahwa dia sedang menahan lapar yang
membuat suara perut menjadi keroncongan dan dilihat wajahnya dia agak pucat. Aku
ingin tahu lebih banyak tentangnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri dan
bertanya kepadanya.
“Hai Dik, apa yang sedang kamu lakukan disini dan ada
apa denganmu?” tanyaku pelan-pelan kepadanya.
“Aku ingin sekali membeli nasi bungkus untuk diriku
dan adikku. Tapi..............”
jawabnya dan kemudian mulai menangis bersedu-sedu.
“Hei, jangan menangis (sambil mengusapkan air mata yang
menetes). Cobalah bercerita kepadaku apa yang sudah terjadi padamu dan siapa
tahu aku bisa membantumu,” kataku (sambil mengajak anak kecil tersebut duduk di
bangku depan warteg itu).
“Jadi
sebenarnya, saya dan adik saya adalah anak jalanan. Namaku Satria dan adikku
bernama Dina. Kami tinggal di sebuah gubuk kecil di pemukiman kumuh yang
berdekatan dengan tempat pembuangan sampah. Aku berumur 10 tahun dan adikku
berumur 6 tahun. Kedua orang tua kami sudah meninggal beberapa tahun yang lalu
karena mengalami kecelakaan fatal. Oleh karena itu, akulah yang harus
bertanggung jawab atas adikku. Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti sekolah
mulai kelas 4 SD dan mulai mencari pekerjaan di sekitar sini supaya aku bisa
mengetahui keadaan adikku serta menjaga jemuran pakaian kami.
Untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, aku menjadi penjual koran di pinggir jalan. Selama aku
bekerja, aku menitipkan adikku kepada tetangga sebelahku. Namun hari ini
penghasilanku sedikit dan hanya bisa untuk menyetorkan hasil jualan koran tadi.
Koran itu masih tersisa banyak dan aku hanya mendapat keuntungan Rp 3000,00.
Kalau aku membeli makanan, aku hanya akan dapat nasi saja. Hari ini juga susu
sachet adikku habis”, katanya sambil mengusap air mata yang masih saja keluar
dengan sendirinya.
Mendengar
perkataannya aku hanya bisa mengelus dada. Mataku nanar dan berkaca-kaca.
Hampir saja air mataku membasahi pipiku. Hatiku sangat tersentuh atas ceritanya.
Aku kagum kepadanya yang bisa menjadi orang tua sekaligus kakak bagi adiknya
yang masih kecil.Oleh
karena itu, aku masuk kembali ke dalam warteg untuk membelikannya nasi. Aku memesan
sebungkus nasi dengan nasi dan sayur lebih banyak. Setelah itu, aku keluar dan
memberikannya nasi tersebut kepadanya.
“Ini aku
belikan sebungkus nasi untukmu dan adikmu buat mengganjal perut malam ini,”
kataku sambil menyerahkannya.
“Tidak usah,
Kak. Aku malah merepotkan Kakak sendiri. Aku masih punya uang untuk membelinya
walau hanya untuk adikku,” tolaknya.
“Tidak. Kamu tidak
merepotkanku tapi aku hanya kagum denganmu. Kamu sudah bisa menjadi orang tua
dan kakak yan baik sedangkan aku mungkin tak sanggup dengan hal seperti itu.
Jadi, terimalah nasi bungkus ini walau hanya sedikit !” suruhku kepadanya.
“Terima kasih
banyak, Kak. Aku hanya bisa membalasnya dengan doa,” jawabnya kepadaku.
“Sama-sama. Aku
juga mengucapkan terima kasih atas ceritamu yang memberiku semangat dan
motivasi besar untuk lebih bersyukur kepada-Nya,” sahutku.
Tak terasa
waktu sudah larut malam saja. Aku dan anak kecil ini beranjak dari bangku dan
segera pulang. Untungnya,jalan yang dilalui kami sama tetapi berbeda arah
menuju rumah.Aku ke arah utara sedangkan dia ke arah barat. Akhirnya, kami berpisah
dan pulang ke rumah masing-masing.