Selasa, 10 November 2015

TEKS ANEKDOT

Pajak

(Annisya Nurul Hidayah X MIA 4)

Pada siang hari di depan rumah, ada dua orang yang sedang duduk dengan santai. Mereka adalah Kang Ojak dan Kang Tris.
“Duh.....aduh......payah, ” kata Kang Ojak dengan penuh rasa kesal.
“Payah kenapa, Kang?” jawabnya dengan nada bertanya-tanya.
“Tiap tahun kita mbayar pajak, tapi apa yang kita dapatkan? ” sahut Kang Ojak dengan nada tinggi.
“Betul juga, Kang! Apakah dalam gedung yang besar itu ada tikus-tikusnya? Kasihan Pak Karno dan Pak Hatta dimakan oleh tikus-tikus itu, ” sahut Kang Tris sambil menyeruput segelas teh hangat yang dihidangkan oleh istri Kang Ojak.
“Mungkin juga. Mereka di depan baik-baik saja tetapi jika di belakang sibuk dengan penghitungan rupiah, ” jawab Kang Ojak dengan nada tegas.
“Pajak itu kan seharusnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Apakah mereka salah mengartikannya dengan Pengambilan uAng Tanpa Ada Kebocoran, ” salut Kang Tris yang serius menanggapi topik perbincangannya dengan Kang Ojak.
“Betul juga kamu, Tris! Sekarang kita juga yang harus menanggung kerugian dari tikus-tikus rakus itu, ” kata Kang Ojak yang menyetujui jawaban dari Kang Tris.
“Kita harus memberantasnya secepat mungkin karena jika dibiarkan begitu saja kapan negara kita disebut menjadi negara maju, ” kata Kang Tris menjelaskan dengan tegasnya.
“Aku setuju denganmu, Tris. Bagaimanapun juga ini adalah negara Indonesia bukan negara para tikus-tikus itu melancarkan aksinya, ” jawab Kang Ojak dengan serius.
Tak terasa, matahari mulai mengelincirkan tubuhnya ke ufuk barat yang menandakan hari mulai menjelang sore dan mereka masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Oleh karena itu, Kang Tris pamit pulang yang disusul oleh Kang Ojak yang juga masih mempunyai pekerjaan di ladangnya. 
“Aku mau meneruskan pekerjaanku di ladang pasti sudah menumpuk, ” jawab Kang Ojak sambil memasukkan gelasnya yang sudah kosong.
“Saya juga, Kang. Saya juga mau mengambil pesanan makanan di Pak Dolah untuk kegiatan yasinan. Wassalamu’alaikum, Kang, ” salut Kang Tris sambil meninggalkan rumah Kang Ojak.
“Ya,Wa’alaikumussalam.”
Akhirnya mereka melakukan pekerjaan mereka masing-masing sebelum matahari menenggelamkan dirinya di ufuk barat.



1 komentar: