TEKS ANEKDOT
Pajak
(Annisya Nurul
Hidayah X MIA 4)
Pada
siang hari di depan rumah, ada dua orang yang sedang duduk dengan santai.
Mereka adalah Kang Ojak dan Kang Tris.
“Duh.....aduh......payah,
” kata Kang Ojak dengan penuh rasa kesal.
“Payah
kenapa, Kang?” jawabnya dengan nada bertanya-tanya.
“Tiap
tahun kita mbayar pajak, tapi apa yang kita dapatkan? ” sahut Kang Ojak dengan
nada tinggi.
“Betul
juga, Kang! Apakah dalam gedung yang besar itu ada tikus-tikusnya? Kasihan Pak
Karno dan Pak Hatta dimakan oleh tikus-tikus itu, ” sahut Kang Tris sambil
menyeruput segelas teh hangat yang dihidangkan oleh istri Kang Ojak.
“Mungkin
juga. Mereka di depan baik-baik saja tetapi jika di belakang sibuk dengan
penghitungan rupiah, ” jawab Kang Ojak dengan nada tegas.
“Pajak
itu kan seharusnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Apakah
mereka salah mengartikannya dengan Pengambilan uAng Tanpa Ada Kebocoran, ”
salut Kang Tris yang serius menanggapi topik perbincangannya dengan Kang Ojak.
“Betul
juga kamu, Tris! Sekarang kita juga yang harus menanggung kerugian dari
tikus-tikus rakus itu, ” kata Kang Ojak yang menyetujui jawaban dari Kang Tris.
“Kita
harus memberantasnya secepat mungkin karena jika dibiarkan begitu saja kapan
negara kita disebut menjadi negara maju, ” kata Kang Tris menjelaskan dengan
tegasnya.
“Aku
setuju denganmu, Tris. Bagaimanapun juga ini adalah negara Indonesia bukan
negara para tikus-tikus itu melancarkan aksinya, ” jawab Kang Ojak dengan
serius.
Tak
terasa, matahari mulai mengelincirkan tubuhnya ke ufuk barat yang menandakan
hari mulai menjelang sore dan mereka masih ada pekerjaan yang harus
diselesaikan hari ini juga. Oleh karena itu, Kang Tris pamit pulang yang
disusul oleh Kang Ojak yang juga masih mempunyai pekerjaan di ladangnya.
“Aku
mau meneruskan pekerjaanku di ladang pasti sudah menumpuk, ” jawab Kang Ojak
sambil memasukkan gelasnya yang sudah kosong.
“Saya
juga, Kang. Saya juga mau mengambil pesanan makanan di Pak Dolah untuk kegiatan
yasinan. Wassalamu’alaikum, Kang, ” salut Kang Tris sambil meninggalkan rumah
Kang Ojak.
“Ya,Wa’alaikumussalam.”
Akhirnya
mereka melakukan pekerjaan mereka masing-masing sebelum matahari menenggelamkan
dirinya di ufuk barat.
Ya, sip!
BalasHapus